Rabu, 16 Oktober 2013
Pengelolahan dan pengembangan strategi Koperasi
Pengelolahan dan pengembangan strategi Koperasi
Secara umum ruang lingkup kegiatan usaha koperasi simpan pinjam adalah penghimpunan dan penyaluran dana yang berbetuk penyaluran pinjaman terutama darai dan untuk anggota. Pada perkembanganya memang koperasi simpan pinjam melayani tidak saja anggota tetapi juga masyarakat luas.
Kegiatan dari Sisi pasiva. Koperasi simpan pinjam dilihat dari aspek pasiva melakukan kegiatan penghimpunan dana baik dari anggota ataupun masyarakat umum. Bentuk penghimpunan ini bisa berupa tabungan atau simpanan sedangan dari masyarakat bisa berbentuk pinjaman modal.
Kegiatan usaha dari aspek aktiva merupakan upaya dari koperasi simpasn pinjam atau ksp serta usp untuk memperoleh laba dengan cara mengalokasikan dari hasil dari penghimpunan yang disalukan kepada anggota dalam bentuk pijaman. Lebih jauh jika di kerucupkan maka kegiatan koperasi simpan pinjman bisa di rinci sebagai berikut.
1. Koperasi simpan pinjam dituntut mampu melayani penyimpanan dan juga penarikan dana oleh anggota sesuai dengan ketentuan serta kesepakatan.
2. Koperasi simpan pinjam juga menyalurkan dana yang terkumpul kepada anggota yang dimasa datang akan diterima kembali secara bertahap.
• Tujuan pengelolaan simpan pinjam, yaitu :
1. Untuk melatih para anggota dalam hal menabung. Menabung adalah persoalan disiplin diri dan terkadang harus diawali dengan ”memaksakan diri”. Dengan membiasakan diri menabung, akan membentuk pola hidup disiplin dan terhindar dari ”budaya konsumerisme”. Disamping itu, menabung juga membudayakan hidup lebih terencana dan juga merupakan bagian dari pembentukan masa depan yang lebih baik dan berpengharapan. Dalam arti luas, ketika segenap unsur organisasi berkomitmen untuk membudayakan menabung, maka dipastikan akan terkumpul akumulasi sumber daya yang akan membuka peluang koperasi untuk mengembangkan banyak hal dan mendukung perbaikan kesejahteraan anggotanya.
2. pinjaman selayaknya diberikan untuk mendukung peningkatan produktivitas anggota melalui kegiatan-kegiatan produktif yang dikelolanya. Bahkan bila perlu, untuk kepentingan peningkatan produktivitas anggotanya pinjaman yang diberikan tidak dikenakan jasa pinjaman. Kalau prakteknya semacam ini, maka dipastikan nilai-nilai kesetiakawanan akan menjelma menjadi sumber lipatan energi bagi koperasi untuk mengembangkan dirinya secara kelembagaan. Disamping itu, pinjaman untuk kepentingan lainnya yang berbau konsumsi ditekan sedemikian rupa sebagai bentuk pendidikan kepada anggotanya. Lain halnya kalau untuk kepentingan-kepentingan emergency atau situasi yang tak diduga sebelumnya di luar kekuasaan manusia. Kalau hal ini diterapkan, maka segenap unsur organisasi koperasi akan merasa seperti satu rumpun keluarga yang saling mendukung lewat paket-paket kegotongroyongan yang mempermudah anggota mencapai tujuan-tujuan hidupnya.
• Strategi Pengelolaan Simpan Pinjam Berbasis Tabungan
Ketika persepsi dan ekspektasi (harapan) setiap anggota sudah sama dan bersepakatan ”simpan pinjam” difahami sebagai media untuk saling tolong menolong, maka strategi yang diterapkan tentu berbeda dengan strategi yang berorientasi pada pelipatan modal. Strategi yang diterapkan pasti bernuansa kekeluargaan, kegotongroyongan dan pemberdayaan (empowering) Ketika besaran SHU tidak lagi menjadi tujuan, maka pola-pola yang diterapkan akan cenderung bernilai edukasi (pencerahan dan pencerdasan anggotanya). Tegasnya, strategi yang akan diterapkan koperasi dalam mengelola simpan pinjam pasti berorientasi pada peningkatan kebermanfaatan (benefit oriented) bagi segenap unsur organisasinya.
Sebagai sebuah gagasan awal, salah satu strategi pengelolaan simpan pinjam yang bisa diaplikasikan adalah ”membangun masa depan lewat membudayakan menabung”. Untuk mendukung hal ini, perlu dilakukan langkah-langkah pendukung sebagaimana dijelaskan berikut ini :
1. Sosialisasi dan edukasi tentang arti penting ”menabung” bagi pembentukan budaya hidup dan penyiapan masa depan yang lebih berpengharapan kepada segenap unsur organisasinya. Langkah penyadaran ini diharapkan akan bisa merubah pola atau budaya hidup setiap anggotanya, khususnya dalam pola konsumsi. Pada titik inilah koperasi sebagai agen pembentukan peradapan baru. Cara baca ini pula yang membenarkan koperasi bukan hanya sekedar gerakan ekonomi, tetapi juga sebagai sebuah gerakan sosial.
2. Menerapkan strategi menabung dengan meminjam tanpa bunga. Kalimat ini tampak aneh atau bahkan tidak lazim. Sebenarnya, kalimat ini mendorong koperasi untuk mendefenisikan masa depannya lewat pembangunan komitmen bersama. Dalam tingkat ptakteknya, segenap anggota berkomitmen untuk menyatakan kesiapannya menabung lewat aksi meminjam. Artinya segenap unsur organisasi sama-sama membuat pernyataan meminjam yang dicicil secara rutin sepanjang periode yang disepakati atau sesuai kemampuan masing-masing. Dengan cara ini, koperasi bisa menakar pertumbuhan koperasinya dan sekaligus merancang pola-pola pemanfaatannya.
3. Memobilisasi tabungan lewat pendekatan transaksi pinjam. Sebagaimana dijelaskan pada sub bahasan sebelumnya, bahwa produk-produk pinjaman yang bisa dinikmati anggotanya diarahkan pada analisa efektivitas pemberian pinjaman. Artinya, pinjaman yang diberikan harus memiliki relevansi bagi keberdayaan ekonomi anggotanya atau hanya untuk kepentingan emergency (situasi diluar kemmapuan manusia). Bahkan bila perlu semua jenis pinjaman tidak dikenakan jasa pinjaman. Penambahan atas pengembalian pokok pinjaman dialokasikan menjadi tabungan. Bisa dibayangkan, disamping membantu menyelesaikan permasalahan keuangan anggotanya, setiap transaksi pinjaman juga bermakna pertumbuhan modal koperasi.
• Strategi Pembangunan Sistem Keuangan Koperasi
Strategi pembangunan Sistem Keuangan Koperasi yang ditawarkan adalah:
1. Memanfaatkan koperasi simpan pinjam yang jumlahnya 37.42 unit terdri dari (a) 1.186 KSP, (b) 5.206 USP-KUD dan (c) 30.832 unit USP-KOPTA.
2. Membangun jaringan usaha KSP, USP-KUD dan SP-Koptan Kopta secara vertikal dan horizontal.
3. Membangun Pusat Koperasi Simpan Pinjam yang bertugas untuk mengkordinasikan semua kegiatan yang bersifat nasional termasuk konsep dan kebijakan yang diperlukan.
4. Membangun sistem pendidikan simpan pinjam secara nasional
5. Membangun manajemen simpan pinjam yang bersih dan profesional
6. Membangun kebersamaan antara Pengurus, Manajer, karyawan dan anggota
7. Membangun KSP, SP-KUD dan SP Koptan melaksanakan dan menerapkan nilai-nilai koperasi secara benar
Untuk melaksanakan strategi diatas perlu diadakan:
(1) Sosialisasi terhadap KSP, SP-KUD dan SP-Koptan tentang rencana pembangunan sistem keuangan
(2) .Agar diusahakan adanya Pusat Koperasi Simpan Pinjam yang bertindak sebagai Central Koperasi simpan pinjam di tingkat pusat
(3) Perlu komitmen dan keberpihakan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan sistem keuangan ini.
(4) Untuk pengembangan modal KSP, SP KUD dan Koptan perlu dijajaki kemungkinan untuk mengakumulasikan kredit-kredit program kedalam permodalan simpan pinjam.
http://www.arsadcorner.com/2012/03/pengelolaan-simpan-pinjam-berbasis.html
http://www.koperasindo.net/2012/12/koperasi-simpan-pinjam-dan-pengelolaanya.html
Selasa, 15 Oktober 2013
Perencanaan Audit
• Permulaan audit
1. Penunjukan ketua tim audit
Ketua tim memberi tanggung jawab menunjuk personel untuk mengelola program audit.
Pelaksanaan audit gabungan harus memperoleh kesepakatan antara organisasi yang melakukan audit, berkaitan dengan tanggung jawab setiap organisasi, khususnya yang terkait dengan kewenangan ketua tim yang ditunjuk untuk mengaudit.
2. Penetapan tujuan, ruang lingkup dan kriteria audit
Tujuan audit
Penentuan tingkat kesesuaian sistem sistem manajemen auditi dengan kriteria audit.
Evaluasi kemampuan sistem manajemen berdasarkan perundang-undangan.
Evaluasi keefektifan sistem manajemen
Identifikasi bidang sistem manajemen
Ruang lingkup audit mencakup lokasi fisik, unit organisasi, kegiatan dan proses yang diaudit serta periode waktu yang dicakup oleh audit.
Kriteria audit mencakup kebijakan, prosedur, standar, peraturan perundang-undangan, persyaratan sistem manajemen dan persyaratan kontrak yang berlaku.
3. Penentuan kelayakan audit
Informasi yang cukup dan sesuai untuk perencanaan audit
Kerjasama yang cukup dari audit
Waktu dan sumber daya yang mencukupi
4. Pemilihan tim audit
Proses untuk menjamin tim audit
Identifikasi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan audit
Pemilihan anggota tim audit sedemikian sehingga seluruh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan ada pada tim audit
5. Kontrak awal dengan auditi
Tujuan
Membentuk saluran komunikasi dengan perwakilan auditi
Mengkonfirmasi kewenangan untuk melaksanakan audit
Memberikan infirmasi tentang waktu dan komposisi tim audit yang diusulkan.
Meminta akses terhadap dokumen yang sesuai termasuk rekaman.
Menentukan aturan keselamatan yang berlaku dilapangan
Membuat pengaturan untuk pelaksanaan audit
Menyepakati kehadiran pemantau dan kebutuhan pemantau untuk kebutuhan tim audit.
• Pelaksanaan tinjauan dokumen
Dokumentasi audit harus ditinjau untuk menentukan kesesuaian sistem dengan kriteria audit serta laporan audit sebelumnya.
Peninjauan mencakup hubungan, sifat dan kompleksitas organisasi serta tujuan dan ruang lingkup audit.\
• Penyiapan kegiatan audit lapangan
1. Penyiapan rencana audit
Cakupan rencana audit
Tujuan audit
Kriteria audit dan dokumen acuan
Ruang lingkup audit
Tanggal dan lokasi kegiatan
Waktu yang diharapkan dan lamanya kegiatan audit dilapangan
Peran dan tanggung jawab anggota tim audit
Alokasi sumber daya
2. Penugasan tim audit
Penugasan tim audit harus mempertimbangkan kebutuhan terhadap keindependenan dan kompetensi auditor, penggunaan sumber daya secara efektif serta perbedaan peran dan tanggung jawab auditor.
3. Penyiapan dokumen kerja
Daftar periksa dan rencana sampling audit
Formulir-formulir untuk merekam informasi
• Pelaksanaan kegiatan audit lapangan
1. Pelaksanaan rapat pembukaan
Mengkonfirmasi rencana audit
Memberikan ringkasan kegiatan audit
Menginformasikan saluran informasi
Memberikan kesempatan kesempatan kepada auditi untuk memberikan pertanyaan
2. Komunikasi selama audit
Menginformasikan secara periodik perkembangan pelaksanaan audit dan setiap hal penting kepada auditi dan klien audit bila sesuai.
3. Peran dan tanggung jawab pemandu dan pengamat
Pelaksanaan kontak dan waktu untuk wawancara
Pengaturan kunjungan dilokasi
Pemastian bahwa aturan sesuai dengan kriteria.
Penyaksian audit atas nama auditi
Pemberian penjelasan dalam pengumpulan informasi
4. Metode Pengumpulan dan verifikasi informasi
Wawancara
Pengamatan kegiatan
Tinjauan dokumen
5. Perumusan temuan audit
6. Penyiapan kesimpulan audit
7. Pelaksanaan rapat penutup
• Penyiapan, pengesahan dan penyampaian laporan audit
1. Penyiapan laporan audit
Tujuan audit, ruang lingkup,
identifikasi klien dan ketua tim serta anggotanya
Tanggal dan lokasi tempat kegiatan audit lapangan
Kriteria audit
Temuan audit
Kesimpulan audit
2. Pengesahan dan penyampaian laporan audit
Diterbitkan dalam periode yang disepakati
Diberi tanggal dan disepakati sesuai periode yang disepakati
Disampaikan kepada penerima yang ditetapkan oleh klien audit.
Laporan audit adalah milik klien dan anggota audit harus menjaga kerahasiaannya.
• Penyelesaian Audit
Penyelesaian audit dinyatakan bila seluruh kegiatan yang diuraikan dalam rencana audit telah dilaksanakan dan laporan audityang disahkan telah didistribusikan.
• Pelaksanaan tindak lanjut audit
Kesimpulan audit dapat menunjukkan keperluan atau tindakan korektif pencegahan atau peningkatan.
TEKNIK WAWANCARA DAN KUESIONER
AUDIT MANAJEMEN
TEKNIK WAWANCARA DAN KUESIONER
Wawancara adalah salah satu cara yang penting untuk mengumpulkan informasi dan sebaiknya dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan situasi dan personal yang diwawancarai. Auditor sebaiknya mempertimbangkan hal-hal berikut :
1. Wawancara sebaiknya diselenggarakan dari personel tingkat yang sesuai dan dari fungsi yang melaksanakan kegiatan atau tugas dalam ruang lingkup audit.
2. Wawancara sebaiknya dilaksanakan dalam jam kerja yang normal dan bila dapat dilaksanakan, pada lokasi kerja personel yang diwawancarai.
3. Setiap upaya sebaiknya dilakukan sehingga personel yang diwawancara tidak merasa dalam kesulitan sebelum dan selama wawancara.
4. Alasan wawancara dan setiap catatan yang dibuat sebaiknya harus dijelaskan.
5. Wawancara dapat diawali dengan meminta personel yang diwawancara untuk menguraikan pekerjaannya.
6. Pertanyaan yang mengarahkan jawaban yang tidak objektif (seperti pertanyaan yang menggurui) sebaiknya dihindari.
7. Hasil wawancara sebaiknya dirangkum dan ditinjau dengan personel yang diwawancarai.
8. Personel yang diwawancai sebaiknya diberikan ucapan terima kasih atas peran dan kerjasamanya.
A. Sumber-Sumber Informasi
Seorang auditor mempunyai tujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang akurat dan menyeluruh tentang objek yang sedang diaudit. Wawancara dirancang untuk mengeksplor informasi secara menyeluruh tentang objek-objek audit dan harus baisanya ditujukan kepada orang-orang yang paham.
Jika terlihat ada keganjilan kegiatan didalam perusahaan yang diaudit maka auditor harus memberikan perhatian khusus. Auditor dapat mengamati manajer yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut karena mereka memiliki informasi tentang :
1. Alasan memilih dan melakukan kegiatan perusahaan ( contoh : manufaktur).
2. Informasi/pandangan yang berguna.
3. Metode yang memungkinkan untuk perbaikan kegiatan
Auditor juga harus berhati-hati melihat penampilan orang yang diwawancara dan harus memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang objek audit, menjawab pertanyaan dengan konsisten yang sesuai dengan informasi.
Namun, pada kenyataannya seseorang dalam jabatan yang tinggi tidak bisa memastikan validitas informasi karena kemungkinan dia orang yang baru menempati posisi itu dan tidak mengetahui hal-hal rinci yang terjadi. Sebab hal-hal yang tergolong rinci bukan bagian kerjaannya tetapi karyawan bawah yang mengetahuinya.
Auditor tidak perlu menghabiskan waktunya hanya untuk mewawancari seseorang yang tidak mempunyai informasi yang sesuai yang dibutuhkan walaupun auditor berpikir bahwa orang itu seharusnya memilikinya. Untuk menghindari hal tersebut, pemberitahuan tentang syarat interviewe perlu disampaikan kepada manajemen sehingga manajemen dapat mengarahkan kepada pihak yang sesuai.
Temuan yang masih memiliki kekurangan seharusnya didiskusikan dengan pejabat yang bertanggung jawab secara langsung. Dan diskusi dilakukan selama audit berlangsung yaitu ketika auditor sedang mencari, mendapatkan, dan mengevaluasi informasi daripada setelah konferensi akhir penyelesain tugas.
Selain manajemen perusahaan yang harus di wawancarai, ada pihak-pihak lain yang seharusnya auditor cari untuk mendapatkan informasi yaitu :
1. Informan
2. Ahli luar
B. Perencanaan dan Persiapan untuk wawancara Penting
Wawancara harus dipersiapkan dengan matang. Pewawancara harus mengetahui tujuan dari wawancara tersebut dan apa informasi yang harus dicari. Untuk mengadakan wawancara yang baik, seseorang harus familiar dengan fakta-fakta yang ada sebelumnya tentang masalah tersebut. Ini menjadi informasi yang berharga bagi pewawancara untuk mengenali dan mengikuti semua alur yang tidak konsisten antara informasi yang diperoleh pada saat wawancara dan informasi yang diperoleh sebelumnya dari sumber-sumber lain.
Dalam perencanaan wawancara, bahkan pewawancara harus berhati-hati dalam memilih bentuk wawancara terhadap seseorang dan pengalaman terdahulu yang mewawancarai mereka. Beberapa pejabat tingkat tinggi marah, dan dengan demikian bereaksi yang tidak baik, diwawancarai oleh orang lain yang tidak selevel pada pertanggungjawaban tingkat tinggi. Auditor kemudian harus melatih pernyataan yang baik untuk memberikan perintah untuk menghindari ke tidak sesuaian antara pewawancara dan yang diwawancarai.
Untuk kebanyakan wawancara penting, akan sangat membantu untuk memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada yang akan diwawancarai topik utama yang ingin dibahas auditor. Pemberitahuan terlebih dahulu menghindari penyianyiaan waktu jika yang akan diwawancarai ingin mengenali subjek sebelum wawancara. Selanjutnya, auditor dapat menunjuk bahan diluar materi yang dapat didiskusikan jika diperlukan.
Jika janji harus dibatalkan atau ditunda, auditor harus memberikan pemberitahuan kepada yang akan diauditor agar dia dapat menyusun ulang jawdalnya yang padat.
Bergantung pada makna dari materi yang akan didiskusikan, auditor biasanya akan disarankan untuk memiliki dua anggota staf yang hadir untuk memberikan tingkat jaminan bahwa catatan tertulis dari wawancara secara akurat mencerminkan informasi yang diperoleh. Kebutuhan untuk konfirmasi tertulis dari informasi yang diperoleh secara lisan akan didiskusikan di bawah ini.
C. Memulai Wawancara
Pewawancara sebaiknya memperkenalkan diri terlebih dahulu jika sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang akan diwawancarai. Identifikasi yang tepat biasanya menghilangkan keraguan dalam pikiran orang yang sedang diwawancarai mengenai identitas pewawancara.
Pendekatan awal sangat penting, terutama ketika auditor melakukan pertemuan pertama kali dengan seseorang yang akan diwawancarai. Ia harus berusaha untuk menempatkan orang tersebut dalam situasi yang tenang dan untuk membangun kesamaan di antara mereka. Bahkan beberapa obrolan singkat diluar subyek wawancara, seperti cuaca atau acara olahraga, sering kali berguna untuk "memecahkan suasana" dan membangun hubungan baik. Sekali lagi, auditor harus melakukan penilaian yang baik. Jika, misalnya, ia tahu bahwa orang yang akan diwawancarai tidak dapat meluangkan waktu beberapa menit untuk sekedar melakukan obrolan tentang hal-hal tidak terkait langsung dengan subyek wawancara, sudah jelas dia harus segera melakukan wawancara dengan subyek yang terkait.
Setelah perkenalan, pewawancara harus menjelaskan tujuan wawancara sehingga orang yang diwawancarai akan mengerti informasi apa yang diinginkan oleh pewawancara tersebut. Tergantung pada keadaan, orang tersebut mungkin diperbolehkan untuk menceritakan kisahnya sendiri atau mungkin ia dimintai keterangan khususnya mengenai hal-hal di mana informasi yang diinginkan.
Diskusi ini harus dikendalikan oleh pewawancara untuk memperoleh fakta-fakta atau informasi lain yang berkaitan dengan tujuan wawancara dan untuk menghemat waktu selama wawancara, seorang pewawancara yang terampil akan berusaha menghindari untuk mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan selama proses wawancara hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jawaban yang sifatnya tidak penting dari orang yang diwawancarai tersebut.
Saran lain yang digunakan agar wawancara berhasil yaitu:
1. Dapatkan semua informasi yang dibutuhkan selama satu kali wawancara, unuk menghindari adanya kemungkin perlunya wawancara kedua.
2. Pada akhir wawancara, secara singkat ringkas informasi penting yang diperoleh sebagai hasil dari wawancara tersebut.
3. Jangan melakukan wawancara melampaui jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya saat membuat janji.
Dalam hal ini biasanya tidak perlu menggunakan alat perekam atau stenograf selama wawancara. jika auditor menganggap perlu, maka kesepakatan harus dibuat dahulu dengan pihak yang akan diwawancarai. Transkrip yang diperoleh melalui beberapa metode, umumnya mengandung banyak informasi yang tidak signifikan. Jika auditor menggunakan alat perekam, kaset yang dihasilkan harus menjadi bagian dari kertas kerja dan harus dilindungi. Apabila pihak yang diwawancara ingin memiliki juga hasil rekaman tersebut, maka rekaman itu digandakan.
D. Mencatat Wawancara
Informasi yang didapatkan lewat sebuah wawancara harus disaring agar dapat menuliskannya secepat mungkin. Dalam beberapa kasus, auditor akan menemukan saat yang tepat untuk mencatat selama wawancara, dimana catatan ini dapat digunakan untuk menyusun memorandum yang lebih rinci setelah wawancara selesai.
Bagaimana dan kapan untuk menemukan saat yang tepat untuk mencatat akan bergantung pada keadaan dari kasus tersebut, kerumitan subyek yang dibahas, dan kepribadian dari orang yang diwawancarai. Pada beberapa kasus, pencatatan saat wawancara dapat menyebabkan orang yang diwawancarai tidak leluasa dan enggan untuk berbicara secara bebas. Dan jika timbul reaksi negatif semacam itu pewawancara sebaiknya berhenti untuk mewawancarai. Tapi bagaimanapun juga, pencatatan saat wawancara itu menunjukkan keseriusan untuk mencatat secara akurat apa yang dikatakan orang yang diwawancarai.
Tidak ada cara khusus yang biasanya digunakan untuk mencatat sebuah wawancara. Bisa diketik atau ditulis tangan, tetapi perlu diingat catatan itu harus muncul sebagai dokumen terpisah dalam kertas kerja dan juga harus berisi rincian yang tepat dari diskusi, diantaranya: waktu dan dan tempat, jabatan, posisi, nama semua orang yang terlibat, dan tanda tangan anggota staf audit lain yang hadir. Memorandum juga harus menunjukkan bukti mengapa auditor yakin orang yang diwawancarai memenuhi syarat untuk membahas materi tersebut. Catatan sebuah wawancara seharusnya tidak terdiri dari notasi yang tidak dapat dijelaskan pada lembar kerja atau pernyataan yang tidak terbukti kebenarannya.
E. Konfirmasi oleh Pewawancara
Beberapa bentuk konfirmasi tertulis dari narasumber yang signifikan umumnya harus ada, ini merupakan bentuk persetujuan dari narasumber untuk di wawancarai. Kecuali apabila ada konfimasi secara lisan dan bentuk konfirmasi tertulis tidak perlu dibuat. Bila perlu kita harus meminta konfimasi untuk mementukan kapan narasumber bisa memenuhi wawancara kita. Konfimasi tertulis merupakan sebuah bukti penting, karena menjamin kelengkapan dan keakuratan dalam catatan tambahan wawancara.
Contoh Surat Konfirmasi Wawancara
KUESIONER
Kuesioner berisi daftar pertanyaan yang akan ditanyakan langsung kepada pegawai yang berwenang sehubungan dengan bidangnya. Kuesioner bertujuan untuk mendapatkan bukti yang kompeten (berhubungan) untuk mendukung kesimpulan yang akan diambil. Adapun kuesioner yang dibuat adalah:
1. Kuesioner pengendalian manajemen:
• Kuesioner manajemen operasional.
• Kuesioner manajemen keamanan.
2. Kuesioner pengendalian aplikasi:
• Kuesioner pengendalian aplikasi input.
• Kuesioner pengendalian aplikasi output.
• Kuesioner pengendalian aplikasi boundary.
A. Keuntungan dan Kelemahan Kuesioner
Keuntungan utama dari kuesioner dibandingkan dengan wawancara terletak pada segi kenyamanan, dalam artian kita tidak harus datang dan mengganggu orang yang akan kita wawancarai. Dilihat dari segi ekonomi kita bisa menghemat biaya dan waktu. Kita juga memperoleh informasi yang dapat di tabulasi karena lebih rinci dan mencakup keseluruhan.
Kelemahan dari kuesioner pada dasarnya tidak fleksibel, dimana auditor hanya mendapatkan informasi sebatas apa yang di tulis didalam kuesioner tersebut. Lalu membutuhkan waktu yang lebih untuk mengkorfirmasi dan memverifikasi. Informasi yang didapat dari kuesioner keandalannya rendah atau keandalannya kurang daripada informasi lisan.
B. Perencanaan Penggunaan Kuesioner
Prinsip Dasar yang Digunakan Dalam merancang kuesioner, yaitu :
1. Mempertimbangkan tingkat pendidikan dan pengalaman dari responden. Pertanyaan yang sederhana dan langsung berhubungan dengan subjek akan menghasilkan hasil yang baik.
2. Hindari kuesioner yang terlalu panjang, pastikan pertanyaan dalam kuesioner tersebut relevan. Kuesioner yang terlalu panjang akan membuat responden bingung.
3. Jawabannya harus cukup tersedia untuk responden. meskipun beberapa pertanyaan mungkin memerlukan pekerjaan oleh responden, pertanyaan tersebut harus dijaga agar tetap minimum dan pentingnya mereka harus dibuat jelas dalam mentransmisikan kuesioner.
4. Mengelompokkan pertanyaan logis. Jawaban untuk satu pertanyaan mungkin memerlukan keputusan dari pertanyaan lain yang harus dijawab atau dihilangkan. Membantu responden dengan meninggalkan jejak sederhana untuk mengikuti.
5. Menggunakan pertanyaan pilihan ganda bila memungkinkan dengan ruang untuk jawaban lain. Pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban narasi kurang diinginkan tetapi tidak dapat dihindari ketika informasi yang dibutuhkan merupakan pengalaman unik dari responden.
6. Berikan ruang tambahan untuk jawaban narasi dan pendapat dari responden.
7. Pertanyaan harus dibatasi untuk menghindari reaksi pembelaan oleh responden. Mencoba untuk tidak menempatkan responden dalam posisi memberikan jawaban yang dapat memalukan diri mereka. Mereka tidak akan benar-benar jujur jika mereka merasa bahwa jawabannya mungkin akan menyakiti mereka. Surat pengiriman yang dikembangkan dengan serius dapat membantu meringankan kemungkinan keraguan atas pemberian jawaban yang jujur.
8. Melakukan pengerjaan ulang mungkin diperlukan, untuk menguji kuesioner sebelum dikirim ke responden
C. Pemilihan Responden dan Distribusi Kuesioner
Sebuah rencana sampling statistik untuk memilih responden merupakan hal yang penting, untuk mendapatkan informasi yang menghasilkan proyeksi dan kesimpulan yang valid. Kontrol atas responden harus ditetapkan dan harus disediakan untuk menindaklanjuti asimetri responden akhir.
Menyiapkan sebuah surat penyampain kuesioner kepada responden merupakan hal yang penting, jika ingin memperoleh jawaban dari responden. Nada yang ramah harus dibuat untuk mendorong respon dan menekankan bahwa pentingnya informasi yang diminta.
Surat tersebut harus dicantumkan tanggal yang masuk akal untuk meneruskan respon, Konsisten dengan persyaratan pemeriksaan tapi tetap mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh responden untuk siap mengevaluasi kuesioner dan jawaban. Alamat kita, amplop perangko dan uang pembayaran pengiriman kembali harus menjadi bagian dari isi paket.
Ketika surat yang diperlukan setelah tanggal jatuh tempo ditindak lanjuti, auditor harus kembali menjadi baik dan ramah dan harus menghindari penampilan yang menuntut.
Contoh Kasus Wawancara dan Kuesioner
Wawancara
Auditor melakukan wawancara secara lisan dengan karyawan yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran secara rinci mengenai siklus persediaan yang ada. Pertanyaan yang ditanyakan seputar prosedur dan tata laksana sistem informasi persediaan yang dijalankan setiap harinya. Dari jawaban tersebut, dikumpulkan untuk mengambil kesimpulan dan memberikan rekomendasi. Auditor melakukan wawancara dengan karyawan bagian persediaan.
Kuesioner
Kuesioner disusun dengan menjadi dua bagian, dimana masing-masing kuesioner diberikan sesuai dengan departemen masing-masing yaitu :
1. Pengendalian manajemen yang terdiri dari :
• Kuesioner manajemen operasional.
• Kuesioner manajemen keamanan.
2. Pengendalian aplikasi yang terdiri dari :
• Kuesioner pengendalian aplikasi input.
• Kuesioner pengendalian aplikasi output.
• Kuesioner pengendalian aplikasi boundary.
Kuesioner Manajemen Operasional
Kuesioner Manajemen Keamanan
Kuesioner Pengendalian Aplikasi Input
Kuesioner Pengendalian Aplikasi Output
Kuesioner Pengendalian Aplikasi Boundary
Hasil Pengamatan (Observasi), Wawancara, dan Kuesioner atas Manajemen Operasional
• Dilakukannya perawatan terhadap hardware yang dilakukan secara periodik.
• Setiap karyawan mempunyai PIN masing-masing untuk mengakses data perusahaan.
• Dilakukannya penjadwalan operasi kerja operasional.
• Ruang server ditempatkan di tempat strategis (jarang dilewati orang dan berada di tempat yang tinggi.
• Setiap komputer memiliki jaringan yang menghubungkan satu komputer dengan komputer lainnya, dengan menggunakan jaringan LAN. Dan juga koneksi dari LAN dapat dimonitor dari pengendalian jaringan.
• Perangkat jaringan komunikasi telah dioperasikan dengan baik dan maksimal yaitu dengan menggunakan I-Phone.
• Terdapat mesin absensi untuk karyawan untuk masuk ke dalam kantor.
• Setiap karyawan yang akan mengentri data diberi pelatihan terlebih dahulu.
• Adanya audit yang diadakan secara mendadak yang dilakukan oleh bagian akuntansi guna melihat baik buruknya kinerja manajemen.
• Belum adanya divisi IT dalam perusahaan, selama ini tugas IT masih ditangani oleh salah seorang staf accounting.
Hasil Pengamatan (Observasi), Wawancara, dan Kuesioner atas Manajemen Keuangan
• Back up atas data dilakukan perusahaan hanya seminggu sekali.
• Semua sistem dilengkapi dengan anti-hacker.
• Sistem penggunan data menggunakan password yang hanya diketahui oleh orang tertentu yang memiliki wewenang. Demikian juga perubahan password hanya dilakukan seperlunya saja.
• Setiap ruangan pada perusahaan terdapat alat pemadam kebakaran automatis serta detektor asap untuk melindungi peralatan, perlengkapan, dan karyawan yang diletakkan pada posisi yang mudah diambil, serta dilakukan pengecekan secara periodik.
• Semua aset perangkat komputer dan hardware belum semua di-cover dengan asuransi.
• Unit komputer telah dikelola dengan efektif, efisien, dan ekonomis.
• Perusahaan memiliki sistem baterai atau generator untuk menyimpan arus listrik cadangan (UPS).
• Setiap komputer telah menggunakan program anti virus yang di update secara periodik.
• Perusahaan memiliki atap, dinding, dan lantai tahan air dan semua material aset telah diletakkan ditempat yang tinggi untuk menjaga agar tidak kebanjiran.
• Perusahaan didirikan ditempat yang jarang terjadi gempa dan angin ribut serta situasi kantor tidak bebas debu.
• Telah ada pelaksanaan pengaman untuk mengantisipasi penyusup.
• Tiap karyawan sudah memiliki kartu identitas tetapi tidak digunakan.
Hasil Pengamatan (Observasi), Wawancara, dan Kuesioner atas Pengendalian Aplikasi Input
• Metode data input yang digunakan untuk master aplikasi menggunakan keyboard.
• Metode data input yang digunakan untuk pengisian aplikasi transaksi menggunakan keyboard, direct reading, dan direct entry.
• Program atau software yang digunakan adalah menggunakan program visual basic khususnya bagian persediaan.
• Pengisian input data dapat dilakukan dengan mudah dan digit yang disediakan pada tampilan layar untuk data selalu sesuai dengan jumlah angka atau huruf yang ada.
• Warna pada tampilan layar monitor pada saat peng-input-an tidak mengganggu dan menghalangi pandangan.
• Data-data yang telah diinput selalu di back-up oleh pihak yang bertanggung jawab.
• Manipulasi data yang dilakukan oleh orang yang tidak berwenang belum pernah terjadi.
• Hasil dokumentasi yang dilakukan selama ini tidak pernah terjadi kehilangan.
• Sistem aplikasi yang digunakan sudah memenuhi kebutuhan peng-input-an data khususnya bagian persediaan.
• Peng-input-an data pada dokumen-dokumen dilakukan berdasarkan kode barang, nama barang, dan jenis barang.
Hasil Pengamatan (Observasi), Wawancara, dan Kuesioner atas Pengendalian Aplikasi Output
• Setiap laporan yang dihasilkan selalu mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun.
• Nomor halaman selalu dicantumkan pada setiap laporan yang dihasilkan.
• Laporan – laporan yang dihasilkan tepat pada awal periode, tetapi jika ada satu hal, laporan yang dihasilkan tidak tepat waktu.
• Membuat copy tersendiri untuk diberikan pada pihak yang berwenang tetapi tidak mencantumkan banyaknya copy laporan tersebut pada saat diberikan pada pihak berwenang.
• Tidak menyediakan kolom tanda tangan pada pihak berwenang.
• Tidak menyediakan kolom tanda tangan pada pihak berwenang.
• Posisi printer sebagai sumber output cukup strategis dan tidak memakai sistem antrian untuk mencetak.
Hasil Pengamatan (Observasi), Wawancara, dan Kuesioner atas Pengendalian Aplikasi Boundary
• Subsistem aplikasi ini sudah dilengkapi dengan login akses dan username serta password.
• Sistem aplikasi di perusahaan hanya bisa diakses oleh orang – orang yang terotorisasi saja.
• Sistem tidak melakukan verifikasi terhadap login akses (username dan password) berdasarkan tipe data (numeric dan data) dan ukuran field (panjang maksimal).
• Manipulasi data tidak pernah terjadi.
Senin, 14 Oktober 2013
PEMEROLEHAN BUKTI DALAM AUDIT KINERJA
PEMEROLEHAN
BUKTI DALAM AUDIT KINERJA
PENGERTIAN BUKTI AUDIT
Dari sudut pandang auditor bukti adalah fakta dan informasi
yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan kesimpulan audit. Bukti harus
mempunyai hubungan dengan kriteria audit yaitu objektif, relevan, dan bermakna
(material). Dalam proses audit, auditor harus dapat menganalisis dan menentukan
fakta dan informasi yang relevan, andal, dan berkaitan dengan tujuan audit.
Sedangkan menurut Sawyers, bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor melalui
pengamatan suatu kondisi, wawancara dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus
memberikan dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti
audit terdiri atas bukti fisik, pengakuan, dokumen dan analitis.
Leo
Herbert mendifinisikan bukti audit sebagai berikut:
“Evidence is the facts and
information used to came a conclusion on an audit objective; and these must be
planned for, gathered, and analyzed before any conclusion can be determined.”
Bukti
audit adalah fakta dan informasi yang akan digunakan untuk mengambil keputusan
dari tujuan audit; pengambilan bukti harus direncanakan, dan dikumpulkan dan
dianalisa sebelum keputusan ditetapkan.
Dapat disimpulkan bahwa bukti audit adalah fakta dan
informasi yang diperoleh auditor melalui pengamatan suatu kondisi, wawancara,
dan pemeriksaan catatan yang dapat digunakan untuk pembuatan kesimpulan audit
dari tujuan audit.
JENIS BUKTI AUDIT
Auditor manajemen harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam
setiap penugasannya, mengetahui fakta dan informasi yang reliable,significan,
dan relevan dengan tujuan audit. Bukti audit dapat dikelompokan ke dalam empat
kelompok yaitu:
1. Bukti analisis (analytical
evidence): Bukti audit harus sesuai
dengan kenyataan. Bukti analisis adalah bukti yang diperoleh auditor dari hasil
penerapan pengetahuan dan keahliannya atas fakta dan informasi yang
diperolehnya selama pekerjaan audit berlangsung. Bukti audit ini memilki
tingkat kepercayaan paling tinggi bagi auditor, karena merupakan hasil
analisisnya sendiri.
2. Bukti langsung (direct
evidence); Bukti yang diperoleh langsung dari sumber yang kompeten dan
berwenang, misalnya bukti pembelian yaitu faktur asli yang diterbitkan oleh
penjual. Kepemilikan gedung, berupa akte jual beli dan balik nama dari notaris.
Bukti ini mempunyai kekuatan hokum yang pasti, sehingga memiliki kekuatan untuk
dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh auditor.
3. Bukti tidak langsung (circumstantial,
or indirect evidence); bukti ini diperoleh dari sumber bukan utama,
misalnya bukti hasil wawancara dengan karyawan tentang kondisi mesin yang
digunakan dalam proses produksi, bukti konfirmasi, bukti pernyataan dsb.
4. Bukti terbaik
dan sekunder (best
and secondary evidence); Bukti terbaik dapat diartikan sebagai bukti asli (dokumen
asli), sementara bukti sekunder dapat dikatakan sebagai duplikat (kopi) dari
bukti atau dokumen asli. Dalam berbagai kondisi, bukti asli sebaiknya digunakan
terlebih dahulu sebelum bukti-bukti lain digunakan. Contoh bukti
kelompok ini adalah copy kontrak, untuk bukti jenis ini auditor harus
meyakinkan diri bahwa bukti tersebut sesuai dengan aslinya. Bukti jenis ini
mempunyai tingkat kepercayaan yang lemah dibandingkan dengan bukti original.
§ Kualitas dan reliabilitas bukti akan sangat berpengaruh pada
kesimpulan auditor. Berdasarkan kualitas dan reliabilitas bukti, dapat
diklasifikasi menjadi :
1) Bukti yang relevan yaitu bukti yang berkaitan erat dengan pokok
permasalahan yang sedang dibahas auditor. Bukti ini harus mempunyai keterkaitan
secara logis dengan criteria dari tujuan audit.
2) Bukti yang material; bukti yang sangat mempengaruhi auditor dalam
mengambil keputusan. Materialitas bukti dapat diukur dengan jumlah uang secara
absolute atau penting tidaknya dengan poko masalah dan tujuan audit. Penilaian
materialitas ini sangat subyektif menurut pertimbangan auditor.
3) Bukti kompeten; bukti ini merupakan bukti yang diperoleh dari
sumber berwenang dan independen. Beberapa kriteria
untuk bukti kompeten:
a.
Bukti diperoleh dari sumber
independen, dengan jaminan kepercayaan yang tinggi terpisah dari organisasi yang diaudit.
b.
Bukti yang diperoleh dari
organisasi dengan system pengendalian intern yang baik.
c.
Bukti yang diperoleh sendiri
oleh auditor, seperti bukti hasil pemeriksaan fisik, hasil observasi, atau
hasil perhitungan atau analisis auditor.
d.
Dokumen asli, bukac copy.
4) Bukti yang cukup (sufficiency
evidence); bukti yang cukup artinya bukti yang akan memberikan kesimpulan
yang yang sama dengan auditor. Dengan bukti yang cukup orang lain tidak akan
dapat mempermasalahkan kesimpulan auditor.
§ Adapun menurut sifatnya, bukti audit
dibedakan menjadi :
1. Bukti fisik (physical
evidence) diperoleh dengan mengamati orang, properti, dan kejadian. Bukti
ini dapat berbentuk observasi oleh pengamat, atau oleh foto, bagan, peta,
grafik atau gambar-gambar lainnya. Bukti grafik bersifat persuasive. Semua
pengamatan harus didukung oleh contoh-contoh dokumen. Jika pengamatan merupakan
satu-satunya bukti, maka lebih disukai bila ada dua atau lebih auditor yang
melakukan pengamatan fisik yang penting. Jika dimungkinkan, wakil dari klien
harus menemani auditor dalam pemeriksaan tersebut.
2. Bukti Pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai
jawaban atas pertanyaan. Bukti ini jika dimungkinkan masih harus didukung oleh
dokumentasi.
3. Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang paling
biasa. Dokumen dapat berasal dari eksternal maupun internal. Bukti dokumen
eksternal mencakup surat atau memorandum yang diterima oleh klien,
faktur-faktur pemasok, dan lembar pengemasan. Bukti dokumen internal dibuat
dalam organisasi klien, mencakup catatan akuntansi, salinan korespondensi ke
pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll
Sumber bukti dokumen akan mempengaruhi keandalannya. Sebuah dokumen eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya (misal sebuah konfirmasi) lebih andal dibandingkan dokumen yang di dapat dari klien.
Sumber bukti dokumen akan mempengaruhi keandalannya. Sebuah dokumen eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya (misal sebuah konfirmasi) lebih andal dibandingkan dokumen yang di dapat dari klien.
4. Bukti Analitis (analytical evidence), berasal dari analitis dan verifikasi.
Sumber-sumber bukti ini adalah perhitungan: perbandingan dengan standar yang
ditetapkan, operasi masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi;
pertimbangan kewajaran; dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian
kecil.
§
Berdasarkan prosedur audit, bukti audit dapat dikelompokkan
ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke Sembilan jenis bukti
tersebut:
1. Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.
2. Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, dan observasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
3. Catatan Akuntansi
1. Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.
2. Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya.
Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, dan observasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
3. Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan
sumber data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan
akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini
bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah
laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat
lemahnya struktur pengendalian intern.
4. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a. Konfirmasi positif
b. Blank confirmation
c. Konfirmasi negative
Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan:
a. Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
b. Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan
c. Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang
d. Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor
4. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a. Konfirmasi positif
b. Blank confirmation
c. Konfirmasi negative
Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan:
a. Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
b. Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan
c. Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang
d. Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor
5. Bukti Dokumenter
Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurutr sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara langsung
b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien
c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien
Bukti dokumenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada
kelompok b. Bukti dokumenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c. bukti dokumenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti documenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti documenter dapat memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliabel) untuk semua asersi.
6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk semua asersi.
7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis
Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya:
a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical
b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal
c. Perhitungan depresiasi
Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan biaya murah.
8. Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua asersi.
9. Bukti Analitis dan Perbandingan
Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran hubungan antas pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian.
Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyebabnya.
TUJUAN PEROLEHAN BUKTI AUDIT
Tujuan Perolehan Bukti Audit adalah untuk menentukan bahwa:
1.
Kriteria atas kegiatan
yang diaudit sudah sesuai dan dapat diterima
2. Terdapat pelaksanaan yang menyimpang (baik tidak
diterapkannya prosedur yang sudah ditetapkan untuk setiap program/aktivitas atau tidak
dilakukannya pengendalian/supervisi yang semestinya atas kegiatan yang diaudit)
merupakan penyebab dari timbulnya akibat yang kurang menguntungkan bagi
kegiatan yang diaudit.
3.
Terdapat akibat yang
cukup penting dan material dari terjadinya perbedaan antara kondisi dengan
kriteria yang telah ditetapkan
Dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat
pengambilan keputusan yang saling berkaitan, yaitu :
1. Penentuan prosedur audit yang akan digunakan.
2. Penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu.
3. Penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi.
4. Penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit
tertentu.
SUMBER-SUMBER BUKTI
Sumber
bukti adalah tempat dimana auditor memperoleh fakta dan informasi yang akan
dijadikan dasar penngambilan keputusannya.
Menurut Leo Herbert, kompetensi dari bukti audit
berkaitan dengan sumber. Sumber dalam hal ini berkaitan dengan yang berasal
dari sebuah pandangan dan yang berasal dari dunia nyata. Berdasarkan persyaratan tersebut
maka bukti audit hanya dapat berasal dari tiga sumber yaitu :
ü Pandangan
auditor yang berkaitan dengan dunia nyata (bukti observasi).
ü Pandangan
orang lain yang berkaitan dengan dunia nyata yang disampaikan kepada auditor
(bukti testimonial).
ü Karakteristik
khususs dari suatu item yang terkait dengan realitas yang dapat dirassakan oleh
siapa saja (bukti tercatat).
v
Bukti Tercatat (Records Evidence)
Sebagai sebuah pernyataan umum,
sumber tunggal yang paling penting dari fakta dan informasi yang digunakan
auditor sebagai bukti adalah catatan. Catatan didalamnya termasuk semua
informasi tertulis.
v
Bukti Testimonial (Testimonial Evidence)
Sebuah bukti testimoni adalah
berbagai informasi yang diterima dari pihak lain atau diri sendiri, yang
bertindak sebagai saksi ahli sebagai hasil dari sebuah pertanyaan langsung.
Permintaan bukti testimoni dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu :
§ Bukti
Interview Personal
Auditor menerima
beberapa bukti terhandalnya melaui interview secara mendalam terhadap orang
lain yang memiliki pengetahuan menganai subjek.
§ Bukti
Surat dan Konfirmasi
Informasi yang
digunakan sebagai bukti dalam laporan audit seringkali diperoleh melalui surat
(korespondensi) dan konfirmasi.
§ Bukti
analitikal
Sebagian besar hasil
rinci dari auditor membuat evaluasi atau analisisnya sendiri. Hasil analisis
ini dapat digunakan sebagai bukti (bukti analitis). Berkaitan secara langsung
dengan bukti analitis adalah bukti yang diperoleh auditor dari saksi ahli
lainnya.
v Bukti
observasi (Observation Evidence)
Auditor
memperoleh sejumlah bukti substansial melalui indra penglihatan dan perasanya.
Bukti observasi harus berasal dari seseorang yang melatih dirinya menjadi
seorang pengamat (observer).
KECUKUPAN DAN KOMPETENSI BUKTI AUDIT
Berkaitan dengan
kuantitas Bukti audit. Faktor yang mempengaruhi kecukupan bukti audit meliputi:
ñ Materialitas.
ñ Resiko Audit
ñ Faktor – faktor ekonomi.
ñ Uuran dan karakteristik populasi
Kompetensi Bukti Audit
Kompetensi bukti adalah berkaitan dengan kuantitas atau
mutu dari bukti–bukti tersebut. Bukti yang kompeten adalah bukti yangdapat
dipercaya , sah , obyektif , dan relevan.
Untuk menentukan
kompetensi bukti harus mempertimbangkan berbagai faktor , yaitu :
ñ Sumber bukti ,
ñ Relevansi bukti ,
ñ Obyektivitas bukti ,
ñ Saat atau waktu.
Bukti kurang kompeten
|
Faktor Kompetensi
|
Bukti Lebih Kompeten
|
Dari dalam perusahaan
|
SUMBER
|
Dari luar perusahaan yg independen
|
Pengendalian intern lemah
|
Pengendalian intern baik
|
|
Perolehan
atau pengetahuan tidak langsung
|
Perolehan atau pengetahuan langsung
|
|
Relevan tidak langsung
|
RELEVANSI
|
Relevan langsung
|
Subyektif
|
OBYEKTIVITAS
|
Obyektif
|
Bukti di terapkan pada
selain pada tgl neraca
|
SAAT/WAKTU
|
Bukti diterapkan pada tgl
neraca
|
Judgementatau
pertimbangan yang dilakukan auditor dipengaruhi berbagai faktor , yaitu :
1)Pertimbangan profesional auditor.
2)Integritas manajemen.
3)Transaksi yang terjadi
di perusahaan.
4)Jenis kepemilikan perusahaan.
5)Kondisi keuangan perusahaan.
KUALITAS
DAN KEANDALAN BUKTI
Dalam
menentukan akseptabilitas dan reliabilitas dari bukti audit, auditor harus
memperhatikan empat hal berikut ini :
v Relevansi
Bukti
Relevansi
disini berarti bahwa informasi yang digunakan sebagai bukti harus memiliki
hubungan logis terhadap criteria dari tujuan audit.
v Materialitas
Bukti
Materialitas
bukti berkaitan dengan bobot peranan masing-masing potongan bukti dalam
mempengaruhi pemikiran auditor terhadap kesimpulan atas tujuan audit.
v Kompetensi
Bukti
Kompetensi
adalah keandalan satu tempat pada sumber informasi yang digunakan sebagai
bukti.
Beberapa
panduan untuk menentukan bukti yang kompeten diantaranya adalah :
a. Bukti
yang diperoleh dari sumber independen memberikan jaminan keandalan yang lebih
besar daripada sumberi yang diperoleh dari organisasi yang tengah diaudit.
b. Bukti
yang dikembangkan dibawah sebuah sistem pengendalian internal yang baik akan
lebih andal daripada yang diperoleh dari sistem berpengandalian lemah atau
tidak memuaskan.
c. Bukti
yang diperoleh auditor melalui pemerksaan fisik, pengamatan, perhitungan, dan
inspeksi akan lebih andal daripada bukti yang diperoleh secara tidak langsung.
d. Dokumen
asli akan lebih andal daripada suplikast dokumen.
v Kecukupan
Bukti
Kecukupan
bukti berkaitan dengan seberapa banyak bukti yang harus dikumpulkan oleh
auditor untuk mencapai sebuah kesimpulan dari tujuan audit. Hal ini sering
disebut sebagai berat bukti (weight of evidence). Terdapat dua istilah
yang digunakan dalam hukum untuk menentukan berat bukti yaitu :
o
Pengaruh yang lebih besar (preponderance)
Bukti ini adalah bukti yang secara
jelas dan meyakinkan melebihi bukti yang bertentangan dalam pemikiran orang
yang mencapai kesimpulan.
o
Pembuktian melebihi sebuah keraguan yang
masuk akal (proof beyond a reasonable doubt)
Hal ini adalah bukti yang jauh
melebihi pengaruh yang lebih besar atau hanya jelas dan meyakinkan.
PROSEDUR AUDIT
Prosedur
Audit adalah tindakan yang di lakukan atau metode dan teknik yang digunakan
oleh auditor untuk mendapatkan atau mengevaluasi bukti audit.
Ø Jenis
– Jenis Prosedur Audit
a)
Prosedur Analitis
Terdiri dari kegiatan yang mempelajari dan membandingkan
data yang memiliki hubungan.Prosedur analitis mengahsilkan bukti analitis.
b)
Menginspeksi
Meliputi kegiatan pemeriksaan secara teliti atau
pemeriksaan secara mendalam atas dokumen catatan atau pemeriksaan fisik atas
sumber-sumber berwujud. Dengan cara ini auditor dapat membuktikan keaslian
suatu dokumen.
c)
Mengkonfirmasi
Adalah suatu bentuk pengajuan pertanyaan yang
memungkinkan auditor untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber
independent dari luar perusahaan.
d)
Mengajukan pertanyaan
Hal ini bisa dilakukan secar lesan ataupun
tertulis.Pertanyaan bisa dilakukan kepada sumber intern pada perusahaan klien
atau pada pihak luar.
e)
Menghitung
Penerapan
prosedur menghitung yang paling umum dilakukan adalah :
1.melakukan
perhitungan fisik atas barang-barang berwujud
2.menghitung
dokumen bernomor tercetak
Tindakan yang pertama dimaksudkan untuk mengevaluasi
bukti fisik dari jumlah
yang ada di tangan sedangkan yang kedua merupakan
cara untuk mengevaluasi bukti dokumen khususnya yang berkaitan dengan
kelengkapan catatan akuntansi.
f)
Menelusur
Yang
biasa dilakukan adalah :
1.
memilih dokumen yang di buat pada saat transaksi terjadi
2. menentukan bahwa dokumen pada transaksi tersebut
telah dicatat dengan tepat dalam catatan akuntansi.
g)
Mencocokkan ke dokumen
Kegiatannya
meliputi :
1.
memilih ayat jurnal tertentu dalam catatan akuntansi
2. mendapatkan dan menginspeksi dokumen tanyg
menjadi dasar pembuatan ayat jurnal tersebut untuk
menentukan validasi dan ketelitian transaksi yang dicatat.
h)
Mengamati
Aktivitas
ini merupakan kegiatan rutin dari suatu tipe transaksi.
i)
Melakukan ulang
Auditor juga bisa melakukan ulang beberapa aspek
dalam proses transaksi tertentu untuk memastikan bahwa proses yang telah
dilakukan klien sesuai dengan prosedur dan kebijakan pengendalian yang telah di
tetapkan.
j)
Teknik audit berbantu computer
Prosedur
audit yang dapat digunakan untuk memperoleh bukti yang kompeten atau dapat
dipercaya adalah :
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Pembuktian ( vouching )
Kalkulasi Kembali
Analisis
Rekonsiliasi
Penjajagan
Perhitungan (count)
Pengujian (test)
Scanning
|
TEKNIK AUDIT
Teknik
audit adalah cara yang ditempuh untuk memperoleh bukti. Antara lain :
a. Pemeriksaan dokumen.(verifikasi).
b. Pemeriksaan fisik.
c. Observasi.
d. Rekonsiliasi,
mencocokan dua saldo dari dua sumber yang berbeda, misalnya untuk mencari saldo
kas yang benar, dilakukan rekonsiliasi antara saldo kas menurut buku perusahaan
dengan saldo kas menurut laporan bank.
e. Konfirmasi;
yaitu meminta penegasan dari pihak ketiga atas informasi yang telah auditor
peroleh selama kegiatan auditnya. Contoh konfirmasi saldo Piutang.
f. Wawancara dengan karyawan auditi.
g. Reprosessing transaksi.
h. Analisis fakta/informasi.
i. Vouching
transaksi. Merekonstruksi ulang transaksi sampai ke dokumen sumbernya secara
sistematis.
Jumlah
dan jenis bukti audit yang dikumpulkan auditor sangat tergantung pada keahlian
dan pengalaman auditor serta pertimbangan ( judgement ) auditor dan tujuan
auditnya. Selama auditor belum merasa yakin, maka ia akan terus berusaha
mengumpulkan bukti agar kesimpulannya dapat dipertanggungjawabkan secara
professional.
Evaluasi
bukti harus lebih teliti bila menghadapi situasi audit yang mengandung risiko
besar. Situasi tersebut adalah sebagai berikut:
a.Pengawasan intern yang lemah
b.Kondisi keuangan klien yang
tidaksehat.
c.Manajemen yang tidak dapat
dipercaya.
d.Penggantian kantor akuntan
publik.
e.Perubahan peraturan perpajakan.
f.Usaha yang bersifat spekulatif
g.Transaksi yang kompleks.
BATASAN BUKTI AUDIT
Kehendak juruaudit untuk
mendapatkan bukti audit selalu menemui batasan tertentu. Batasan tersebut timbul
disebabkan oleh beberapa faktor:
a)
Bukti audit adalah
subjektif, bergantung pada keadaan sekeliling yang mempengaruhi audit dan
bergantung pada budi bicara juruaudit. Ini bermakna bukti audit yang mutlak
tidak mungkin diperoleh.
b)
Bukti yang diperoleh mungkin
tidak perlu diambil kira kerana kenyataan atau perkara yang terlibat tidak
matang
c)
Biasanya juruaudit mempunyai
tempoh yang terhad untuk menyiapkan kerja audit yang diberikan kepadanya. Oleh
sebab faktor masa, juru audit terpaksa menerima bukti audit yang tidak begitu sempurna
untuk menemui tempoh yang telah ditentukan.
d)
Juruaudit harus juga
menimbangkan di antara cost yang terlibat untuk mendapatkan bukti audit dengan keperluan memperoleh bukti
tersebut. Perkara ini terjadi terutama sekali jika cost yang
terlibat terlalu tinggi.
HUBUNGAN BUKTI HUKUM DENGAN BUKTI AUDIT
Bukti
hukum dan bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki tujuan yang
sama-untuk memberikan bukti, untuk mendorong keyakinan tentang kebenaran atau
kesalahan setiap pernyataan atas suatu masalah. Keyakinan dibangun dari
pertimbangan atas informasi, informasi tersebut yang kemudian disajikan, dalam
bentuk apa pun, merupakan bukti.
Fokus
bukti audit sedikit berbeda dengan bukti hukum. Bukti-bukti hukum (legal evidence) sangat mengandalkan
pengakuan lisan. Bukti-bukti audit (audit
evidence) sangat mengandalkan bukti-bukti dokumen. Bukti-bukti hukum
memungkinkan pernyataan-pernyataan tertentu, misalnya dalam hukum dinyatakan
bahwa fakta-fakta yang tertera pada instrument tertulis, antara pihak-pihak
yang berkepentingan adalah benar (artinya tidak ada bukti lain, seberapa pun
kuatnya, yang dapat menentang kebenaran dari fakta tertulis tersebut). Tetapi
auditor tidak dibatasai pada anggapan atau pernyataan tertentu; mereka harus
mempertanyakan setiap bukti hingga mereka sendiri puas dengan kebenaran atau
kesalahannya. Berikut ini beberapa ringkasan bentuk bukti hukum.
1. Bukti
terbaik (best evidence) sering disebut bukti
primer, merupakan bukti yang paling alami-bukti yang paling memuaskan mengenai
fakta-fakta yang sedang diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat
dengan keandalan. Umumnya bukti tersebut terbatas pada bukti dokumen dan
kebanyakan diterapkan untuk membuktikan isi pernyataan tertulis. Jika tersedia
pernyataan tertulis yang asli, aturan tentang bukti terbaik mencegah salah satu
pihak membuktikan isi pernyatan tertulis melalui pengakuan lisan. Aturan
tersebut dirancang untuk menutup kemungkinan terjadinya interpretasi yang salah
atas pernyataan tertulis; karena mengharuskan tersedianya dokumen asli bila
tersedia. Bukti lisan, misalnya, tidak boleh digunakan untuk memperselisihkan
instrument tertulis seperti kontrak atau akta; tetapi, bukti lisan dapat
digunakan untuk menjelaskan makna instrument tersebut jika instrument seperti
ini memungkinkan terjadinya lebih dari satu interpretasi
2. Bukti
sekunder (secondary evidence) berada di bawah
bukti primer dan tidak disamakan keandalannya. Bukti sekunder bisa mencakup
salinan bukti tertulis atau lisan. Sebuah salinan tertulis umumnya dapat diterima, jika:
(1) dokumen asli hilang atau telah dimusnahkan tanpa niat
melakukan kecurangan di pihak pendukung salinan tersebut;
(2) bukti tertulis tersebut sulit diperoleh oleh pendukung
salinan tersebut;
(3) bukti tertulis dikendalikan oleh entitas publik. Harus
ditunjukkan bahwa salinan tersebut merupakan representasi yang layak dari
dokumen asli. Pengakuan lisan atau risalah tertulis umumnya dianggap berada di
bawah salinan dokumen tertulis
Bentuk bukti yang inferior ini tidak dibatasi
oleh aturan bukti terbaik jika:
(1) bukti tertulis terdiri atas beberapa akun atau bukti
tertulis lainnya;
(2) akun-akun tersebut tidak dapat diperiksa di pengadilan
tanpa menghabiskan banyak waktu; atau
(3) akun-akun atau bukti tertulis lainnya dihasilkan untuk
diperiksa oleh pihak yang berlawanan jika kebijakan pengadilan mengharuskan.
3. Bukti
langsung (direct evidence) membuktikan fakta tanpa
harus menggunakan pernyataan atau rujukan untuk menetapkan suatu bukti.
Pengakuan dari seorang saksi atas sebuah fakta merupakan bukti langsung-tidak
diperlukan rujukan. Misalnya, seorang saksi yang menyatakan bahwa ia mengamati
seorang karyawan yang menginspeksi penerimaan barang menandatangani berkas
pemeriksaan. Padahal barang yang diterima kurang dari yang tertera di berkas
tersebut, merupakan bukti tertulis.
4. Bukti
tidak langsung
(circumstantial evidence) membuktikan
fakta sementara, atau sekumpulan fakta, yang dapat dirujuk seseorang untuk
mengetahui keberadaan beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah yang
sedang dipertimbangkan. Bukti ini tidak langsung membuktikan keberadaan
fakta-fakta primer, tetapi hanya meningkatkan penggunaan pemikiran logis yang
ada. Penerimaan barang yang kurang dari jumlah yang seharusnya tetapi lolos
pemeriksaan departemen penerima, disertai stempel pemeriksaan pada memo
penerimaan, merupakan bukti tidak langsung bahwa si pemeriksa telah lalai.
Auditor harus senantiasa berhati-hati dengan bukti tidak langsung. Misalnya,
dalam kasus petugas pemeriksa tadi, mungkin saja ia sedang tidak bertugas pada
hari barang diterima dan orang lain menggunakan stempelnya.
5. Bukti
yang meyakinkan.
Bukti yang meyakinkan merupakan bukti yang tak terbantahkan, apa pun bentuknya.
Bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan semua bukti lainnya, dan merupakan
sumber diambilnya kesimpulan. Bukti ini tidak tidak bisa dipertentangkan dan tidak
membutuhkan bukti-bukti yang menguatkan.
6. Bukti
yang menguatkan
merupakan bukti tambahan dari karakter yang berbeda menyangkut hal yang sama.
Bukti ini mendukung bukti yang telah diberikan dan cenderung menguatkan atau
mengonfirmasikannya. Misalnya, bukti lisan yang konsisten dengan instrument
tertulis, dan diberikan semata-mata untuk mengonfirmasi pernyataan tertulis,
dan diberikan semata-mata untuk mengonfirmasi pernyataan tertulis atau
menunjukkan kebenaran masalah yang terkandung di dalamnya, maka hal ini
merupakan bukti yang menguatkan dan dianggap dapat diterima. Bukti lisan, yang
diberikan oleh penyelia inspeksi, bahwa petugas inspeksi sedang bertugas pada
hari diterimanya barang dalam jumlah yang kurang dari seharusnya dan tidak ada
orang lain yang bisa menggunakan stempelnya, menguatkan bukti tidak langsung
atas stempel penerimaan.
7. Bukti
Opini,
berdasarkan aturan opini, saksi-saksi harus memberikan kesaksian hanya terhadap
fakta yang ada-pada apa yang benar-benar mereka lihat atau dengar. Sebaliknya
auditor harus menyaring opini dan mengumpulkan serta ,mengevaluasi fakta-fakta
semata.
Opini
yang diberikan orang lain bisa bermamfaat sebagai penunjuk jalan yang benar
untuk mengumpulkan fakta, tetapi opini juga bisa bias, mementingkan kepetingan
sendiri, atau kurang mengandung informasi. Akan tetapi terdapat pengecualian
atas aturan opini, yang berkaitan dengan pengakuan saksi ahli. Berdasarkan
pengecualian ini, seorang ahli diperbolehkan memberikan opini atas suatu fakta;
karena hanya dengan cara ini juri atau hakim administratif akan memahami
fakta-fakta tersebut dan hanya dengan cara inilah juri akan memahami
fakta-fakta tersebut dan hanya dengan cara inilah juri akan memperoleh
kebenaran. Untuk pengakuan berupa opini telah dibuat beberapa pengamanan dengan
mensyaratkan adanya dua elemen: Pertama, subyek yang dinyatakan opininya harus
jelas terkait dengan pengetahuan, profesi, bisnis, atau jabatan yang berada di
luar pemahaman orang awam. Kedua, saksi ahli harus memiliki keahlian,
pengetahuan, atau pengalaman dalam bidang tersebut sehingga bisa membantu
anggota juri atau pengadilan dalam mencari kebenaran.
Auditor
harus memiliki aturan opini dalam pikiran mereka menghadapi masalah yang berada
di luar pengetahuannya. Mereka harus memahami bahwa opini orang lain adalah
abash jika opini stersebut berada dalam lingkup aturan opini ahli, tetapi tidak
valid kecuali mencakup tiga bagian penting ini:
(1)
subyek yang berada di luar pemahaman auditor; dan
(2)
saksi ahli yang dikenal memang memiliki pengetahuan di bidang tersebut.
Untuk
praktisnya, auditor harus memiliki elemen ketiga: bebas dari kemungkinan bias.
Dalam situasi bisnis, saksi ahli biasanya adalah pegawai organisasi. Auditor
harus, jika mungkin, memilih seseorang di luar departemen atau divisi yang terlibat
dalam audit. Seorang insinyur yang opininya diperoleh atas masalah yang
melibatkan proyek A harus dipilih dari insinyur yang menangani proyek B atau C.
Tentu saja dalam beberapa organisasi, satu-satunya saksi ahli mungkin bekerja
pada proyek yang sedang ditelaah. Dalam kasus ini, auditor harus
mempertimbangkan kemungkinan bahwa pengakuan saksi ahli tersebut tidak
sepenuhnya bebas dari bias.
8. Bukti
kabar angin.
Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan yang tidak dapat diterima yang
dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk membuktikan kebenaran suatu masalah.
Dengan kata lain, bukti ini berupa bukti lisan atau tertulis yang dibawa ke
pengadilan dan menjadi bukti atas pernyataan yang dikatakan di pengadilan.
Bukti kabar angin umumnya tidak dapat diterima karena salah satu cara terbaik
untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan sebuah pernyataan adalah dengan
mendengar keterangan dari saksi ahli di bawah sumpah dan memeriksa silang
dengan apa yang benar-benar dilihat atau didengar. Pemeriksaan silang merupakan
cara untuk menemukan ketidakjujuran dan kecurangan, penindasan, dan sumber
kesalahan yang terkandung dalam pernyataan seorang saksi ahli. Auditor harus
menempatkan diri mereka sendiri pada posisi sebagai seorang hakim di pengadilan
pada saat mengajukan pertanyaan dan memeriksa catatan. Jika Smith mengatakan
kepada auditor.
MEMBUAT
RINGKASAN dan MENGELOMPOKKAN
BUKTI
Bukti-bukti
yang telah diperoleh dalam audit kemudian diringkas dan dikelompokkan sesuai
dengan tujuan elemen tujuan audit yang meliputi: kriteria, penyebab dan akibat.
Bukti-bukti yang masuk dalam kelompok kriteria adalah keseluruhan temuan audit
yang berkaitan dengan norma/standar yang ditetapkan perusahaan (dirumuskan
bersama dengan auditor) yang menjadi dasar bagi setiap komponen dalam
perusahaan dalam melakukan aktivitasnya. Seringkali auditor menemukan bukti
kriteria sudah tidak relevan lagi dalam mendukung operasional perusahaan karena
sudah berkembang suatu metode operasi yang lebih mutakhir yang dapat
meningkatkan ekonomisasi, efisiensi operasi dan efektivitas dalam mencapai
tujuan.
Sedangkan
bukti-bukti yang termasuk dalam kelompok penyebab biasanya berupa berbagai
tindakan menyimpang atau tindakan positif yang tidak dilakukan yang merupakan
sumber terjadinya ketidakekonomisan, ketidakefisienan operasi, dan
ketidakefektifan pencapaian tujuan. Di samping penyebab-penyebab yang bersifat
negatif ini, memungkinkan juga auditor menemukan penyebab-penyebab yang
bersifat positif yang secara relatif merupakan kebalikan dari penyebab negative
di atas, auditor harus secara objektif menyajikan dalam temuan auditnya baik
temuan bersifat negative maupun temuan yang bersifat positif.
Bukti-bukti yang merupakan kelompok
akibat adalah bukti-bukti yang biasanya ditemukan terlebih dahulu. Bukti-bukti
ini adalah hasil pengukuran antara penyebab yang terjadi dengan kriteria yang
berhubungan dengan penyebab tersebut. Bukti-bukti ini dapat dipahami sebagai
dampak dari berbagai permasalahan yang terjadi pada objek audit.
Langganan:
Postingan (Atom)